Oleh Ahmad Dhuha Habibullah
Sebagai praktisi yang bekerja dengan data iklim setiap hari, saya kerap frustrasi dengan betapa sulitnya mengakses data meteorologi dan oseanografi di Indonesia.
Masalah Saat Ini
Data curah hujan harian dari stasiun BMKG — yang seharusnya menjadi barang publik — seringkali memerlukan prosedur birokrasi yang panjang untuk diakses. Data yang tersedia secara online sering terbatas dan tidak up-to-date.
Perbandingan Internasional
Di negara-negara maju seperti AS, Inggris, dan Jepang, data meteorologi tersedia secara terbuka melalui API dan portal data yang user-friendly. NOAA bahkan menyediakan data klimatologi global yang bisa diunduh siapa saja.
Dampak Keterbatasan Akses
- Peneliti akademis kesulitan melakukan studi iklim regional
- Jurnalis sains tidak bisa memverifikasi klaim tentang cuaca dan iklim
- Startup agritech tidak bisa mengembangkan layanan prakiraan untuk petani
Visi ke Depan
Indonesia membutuhkan platform data iklim terbuka yang modern, terintegrasi, dan mudah diakses — mirip dengan Copernicus Climate Data Store milik Uni Eropa. Ini bukan kemewahan, melainkan infrastruktur dasar untuk bangsa yang sangat bergantung pada informasi iklim.