Sebuah tinjauan literatur yang diterbitkan dalam jurnal Heliyon mengonfirmasi bahwa krisis iklim telah menjadi faktor pendorong utama percepatan erosi pantai di Asia Tenggara. Berdasarkan protokol Reporting standards for Systematic Evidence Syntheses (ROSES), studi ini menyintesis data dari berbagai literatur untuk memetakan bagaimana kenaikan muka air laut, gelombang badai (storm surge), dan pola monsun secara kolektif mengancam stabilitas garis pantai regional.
Mekanisme Pengikisan: Peran Kenaikan Muka Air Laut dan Monsun
Studi ini mengidentifikasi tiga pendorong utama erosi pesisir di Asia Tenggara:
- Kenaikan Muka Air Laut Relatif: Temuan menunjukkan bahwa fenomena ini bersifat kronis dan akumulatif. Kenaikan muka air laut mengubah dinamika hidrodinamika pasang surut, yang memungkinkan energi gelombang menembus lebih jauh ke daratan, sehingga memicu erosi jangka panjang di wilayah dengan topografi landai.
- Gelombang Badai (Storm Surge): Berbeda dengan kenaikan muka air laut, gelombang badai memberikan dampak instan yang destruktif. Perubahan sistem atmosfer dan peningkatan suhu permukaan laut terbukti meningkatkan frekuensi serta intensitas badai tropis, yang mampu memicu kemunduran garis pantai dalam hitungan jam.
- Anomali Pola Monsun: Sistem monsun musiman secara konsisten memengaruhi karakteristik gelombang dan pola curah hujan. Perubahan pada kekuatan monsun memodifikasi transportasi sedimen yang memperburuk laju erosi di kawasan seperti pesisir timur Semenanjung Malaysia dan Vietnam.
Evaluasi Strategi Adaptasi: Antara Rekayasa Sipil dan Solusi Berbasis Alam
Paper ini menyoroti ketidaksesuaian dalam efektivitas strategi pengendalian erosi yang diimplementasikan di berbagai negara di Asia Tenggara.
- Keterbatasan Rekayasa Sipil: Penggunaan dinding laut (seawall), groin, dan revetment beton sering kali bersifat reaktif. Studi menemukan bahwa struktur ini, jika tidak dirancang dengan mempertimbangkan dinamika hidrodinamika lokal, justru dapat menyebabkan efek down-drift yakni memindahkan masalah erosi ke area di sekitarnya atau bahkan dapat menghambat sedimentasi alami.
- Efektivitas Solusi Berbasis Alam: Pendekatan seperti penggunaan bendungan permeabel untuk restorasi mangrove di Indonesia menunjukkan potensi dalam memulihkan dinamika sedimen. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada pemahaman terhadap laju subsidensi (penurunan muka tanah) lokal.
- Risiko Kegagalan: Tinjauan ini mencatat beberapa kasus kegagalan struktur rekayasa sipil, seperti yang terjadi di Vietnam, di mana struktur beton mengalami penurunan efektivitas akibat perbandingan komposisi material yang tidak tepat yang menyebabkan ketidakmampuan menahan tekanan gelombang yang meningkat seiring perubahan batimeteri.
Kebutuhan untuk Integrasi Kebijakan
Penulis studi menekankan bahwa manajemen pesisir di Asia Tenggara memerlukan pergeseran dari pendekatan ad-hoc menuju kerangka kerja yang lebih komprehensif. Kesimpulan utama dari tinjauan ini menyatakan bahwa:
- Perlu adanya evaluasi berkala terhadap infrastruktur pesisir yang ada, terutama di tengah percepatan kenaikan muka air laut.
- Pentingnya koordinasi lintas sektoral dan keterlibatan komunitas lokal dalam perencanaan adaptasi.
- Pengembangan strategi mitigasi harus berbasis pada pemahaman dinamika sistem pesisir dan data lapangan yang akurat, alih-alih hanya mengandalkan struktur beton sebagai solusi tunggal.
Studi ini menekankan bahwa tanpa kerangka adaptasi yang matang dan didukung oleh data riset, tantangan erosi pantai akan terus membahayakan infrastruktur, ekosistem, serta mata pencaharian komunitas pesisir di Asia Tenggara.
Sumber: The impact of climate change on coastal erosion in Southeast Asia and the compelling need to establish robust adaptation strategies, Heliyon, 2024.


Komentar (0)