0%
Bedah paper

Jejak Kontras El Niño 2023: Mengapa Indonesia Mengalami Banjir di Tengah Musim Kering?

Jejak Kontras El Niño 2023: Mengapa Indonesia Mengalami Banjir di Tengah Musim Kering?
Ahmad Dhuha Habibullah
Ahmad Dhuha Habibullah29/7/20253 mnt baca

Jejak Kontras El Niño 2023: Mengapa Indonesia Mengalami Banjir di Tengah Musim Kering?

Tahun 2023 mencatat sejarah sebagai salah satu periode terpanas, ditandai dengan fenomena El Niño yang kuat. Selama ini, konsensus umum menyatakan bahwa El Niño akan membawa kondisi kering dan panas ke seluruh wilayah Indonesia. Namun, sebuah studi terbaru dalam Journal of Southern Hemisphere Earth Systems Science mengungkapkan realitas yang lebih kompleks: dampak El Niño tahun 2023 justru bersifat "spasial tidak homogen" atau sangat beragam di berbagai wilayah Indonesia.

Membagi Wilayah, Memahami Perbedaan

Dalam penelitian tersebut, para ahli membagi wilayah Indonesia menjadi dua domain utama untuk melihat perbedaan pola cuaca: DOM1 (wilayah utara, mencakup Sumatra bagian utara dan Kalimantan) dan DOM2 (wilayah selatan, mencakup Jawa, Sumatra bagian selatan, hingga Papua).

Secara umum, selama musim kering (Juni-September 2023), wilayah selatan (DOM2) memang mengalami pengurangan curah hujan yang signifikan dan kekeringan, yang diperparah oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD+) dan monsun Australia. Namun, di saat yang sama, wilayah utara (DOM1) justru mengalami curah hujan tinggi yang memicu banjir parah di beberapa titik.

Peta anomali curah hujan bulanan 2023 dibandingkan dengan data klimatologi 1991-2020. Gambar ini menunjukkan kontras antara wilayah utara (DOM1) dan selatan (DOM2). | Sumber: https://connectsci.au/view-large/figure/8773539/ES25005_F1.gif

Peran Kunci Laut Cina Selatan

Mengapa wilayah utara Indonesia tetap basah? Penelitian ini menunjuk pada pemanasan suhu permukaan laut di Laut Cina Selatan. Pemanasan ini meningkatkan kadar uap air dan aktivitas awan tingkat tinggi di wilayah tersebut.

Visualisasi fraksi awan tinggi, menengah, dan rendah. Gambar ini memperjelas bagaimana aktivitas awan memengaruhi pola distribusi hujan di wilayah barat Indonesia. | Sumber: https://connectsci.au/view-large/figure/8773560/ES25005_F8.gif

Selain itu, fenomena El Niño 2023 yang langka, dengan dua puncak (double-peak), mengubah pola sirkulasi angin global, yang secara tidak langsung memberikan dampak "lokal" yang unik bagi nusantara.

Mengapa Ini Penting bagi Masa Depan?

Pemahaman mengenai heterogenitas dampak El Niño ini sangat krusial bagi Indonesia. Selama ini, model prediksi iklim seringkali menyamaratakan dampak El Niño di seluruh negeri. Dengan adanya temuan ini, perencanaan sektor pertanian, mitigasi bencana banjir, dan manajemen sumber daya air di masa depan diharapkan bisa lebih akurat dan tepat sasaran berdasarkan karakteristik wilayah masing-masing.

Studi ini menjadi pengingat bahwa di era pemanasan global, fenomena iklim tradisional mungkin berperilaku dengan cara yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

Referensi: Zehri, S., Yulihastin, E., Marpaung, F. et al. Diverse impact of 2023 El Niño on weather patterns over the Indonesian Maritime Continent. J. South. Hemisph. Earth Syst. Sci. 75, ES25005 (2025). https://doi.org/10.1071/ES25005


Dukung Jurnalisme Iklim Kami

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat dan ingin mendukung kami untuk terus menghadirkan jurnalisme sains, data, dan lingkungan yang berkualitas, pertimbangkan untuk mentraktir kami kopi!

Dukung via Saweria

Komentar (0)

Email opsional. Kami tidak akan menggunakan alamat email Anda untuk tujuan komersial kecuali Anda berlangganan nawala kami.