0%
Bedah paper

Gelombang Panas Laut Jadi Ancaman Baru Dunia

Gelombang Panas Laut Jadi Ancaman Baru Dunia
Ahmad Dhuha Habibullah
Ahmad Dhuha Habibullah10/10/20253 mnt baca

Pernahkah Anda mendengar istilah gelombang panas laut? Jika selama ini kita hanya waspada terhadap suhu udara yang membakar di daratan, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ancaman serupa yang bahkan lebih mematikan sedang terjadi tepat di bawah permukaan air laut.

Sebuah studi komprehensif yang menganalisis data selama satu abad terakhir mengungkap fakta mengejutkan bahwa lautan dunia mengalami peningkatan frekuensi dan durasi gelombang panas laut secara signifikan. Apa dampaknya bagi kita?

Apa Itu Gelombang Panas Laut?

Gelombang panas laut didefinisikan sebagai periode ketika suhu permukaan laut melonjak drastis di atas rata rata musiman dan bertahan setidaknya selama lima hari berturut turut. Fenomena ini bukan sekadar anomali suhu biasa, melainkan bencana sunyi bagi ekosistem bawah laut.

Definisi Gelombang Panas Laut (Marine Heatwaves oleh Hobday et al. 2016) | Sumber: https://www.marineheatwaves.org/mhw-overview.html

Mengapa Ini Terjadi dan Apa Dampaknya?

Penelitian yang dipimpin oleh tim internasional ini menunjukkan bahwa dari tahun 1925 hingga 2016, frekuensi global gelombang panas laut meningkat sebesar 34 persen, dan durasinya bertambah 17 persen. Hal ini menghasilkan peningkatan total hari panas di laut sebesar 54 persen secara global.

Biang kerok utamanya adalah pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca. Saat suhu laut rata rata meningkat, ambang batas untuk mencapai kondisi gelombang panas menjadi lebih mudah dilampaui.

Dampak ekologisnya tidak main main:

  1. Kehancuran habitat: Hilangnya hutan kelp secara masif.
  2. Pemutihan karang: Ancaman bagi biodiversitas laut yang krusial.
  3. Migrasi spesies: Pergeseran jangkauan habitat spesies laut yang mengacaukan struktur komunitas ekosistem.
  4. Krisis ekonomi: Penutupan perikanan dan gangguan pada kuota tangkapan yang memengaruhi ekonomi nelayan dan keamanan pangan dunia.
Terumbu karang yang mati di the Kepulauan Keppel, selatan Great Barrier Reef, Maret 2024. | Sumber: Dokumentasi Renata Ferrari

Mengapa Ini Berbeda dari Daratan?

Tidak seperti gelombang panas di daratan yang bisa dihindari dengan berteduh atau menggunakan AC, organisme laut terjebak dalam ekosistem mereka. Ketika suhu melonjak, banyak spesies tidak bisa melarikan diri dengan cepat, menyebabkan kematian massal, seperti yang sempat terjadi di perairan Australia, Mediterania, dan Pasifik Utara.

Grafik total hari gelombang panas laut secara global | Sumber: https://www.nature.com/articles/s41467-018-03732-9

Ancaman Masa Depan

Penelitian ini memberikan peringatan keras. Dengan tren pemanasan laut yang terus berlanjut, kita harus bersiap menghadapi gelombang panas laut yang lebih sering dan lebih lama. Ini bukan lagi masalah yang hanya menarik perhatian para ilmuwan, tetapi tantangan keberlanjutan global yang mendesak.

Kesimpulan

Laut bukan sekadar penyerap panas raksasa bagi planet ini karena ia adalah sistem yang memiliki batas toleransi. Meningkatnya suhu demam lautan adalah sinyal bahwa kita perlu bertindak lebih tegas dalam menekan emisi karbon jika ingin menjaga kehidupan bawah laut dan kesejahteraan manusia yang bergantung padanya tetap aman.

Referensi: Oliver, E. C. J., Donat, M. G., Burrows, M. T., Moore, P. J., Smale, D. A., Alexander, L. V., ... & Wernberg, T. (2018). Longer and more frequent marine heatwaves over the past century. Nature Communications, 9(1), 1324. https://doi.org/10.1038/s41467-018-03732-9


Dukung Jurnalisme Iklim Kami

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat dan ingin mendukung kami untuk terus menghadirkan jurnalisme sains, data, dan lingkungan yang berkualitas, pertimbangkan untuk mentraktir kami kopi!

Dukung via Saweria

Komentar (0)

Email opsional. Kami tidak akan menggunakan alamat email Anda untuk tujuan komersial kecuali Anda berlangganan nawala kami.