0%
Teknologi

Ngintip Jeroan Awan Badai: Karena Nebak Cuaca Modal Insting Itu Nggapleki

Ngintip Jeroan Awan Badai: Karena Nebak Cuaca Modal Insting Itu Nggapleki
supercell tornadik | Sumber: https://www.ustornadoes.com/2013/02/14/understanding-basic-tornadic-radar-signatures/
Mohamad Anwar Syaefudin
Mohamad Anwar Syaefudin6/7/20265 mnt baca

Radar Doppler ini ibarat alat USG buat langit. Jadi kita bisa tahu ada pusaran badai di dalam awan, alih-alih cuma mbatin, "Waduh, gelap euy, jemuran gimana nih?"

Korban Pemberi Harapan Palsu Langit

Saya itu paling mangkel kalau disuruh emak ngangkat jemuran gara-gara langit mendadak gelap gulita. Ceritanya lagi asyik rebahan sambil main HP, ujug-ujug disuruh lari ke halaman. "Cepet angkat, udah mendung tebel tuh, mau badai!" teriak emak saya dengan frekuensi setara sirine ambulans. Masalahnya, setelah jemuran diangkat, dibopong susah payah ke dalam rumah, eh hujannya nggak jadi turun. Awan hitamnya cuma numpang lewat doang! Asemmm! Sebaliknya, kadang langit cuma mendung tipis malu-malu, eh tiba-tiba hujan deres sekonyong-konyong turun bikin kasur jemuran basah kuyup. Kita ini memang sejak zaman nenek moyang terlalu sering di-PHP-in awan. Nebak cuaca dari luar itu kayak nebak isi manggis, tebak-tebak buah manggis beneran, seringnya meleset. Dan sebagai warga negara biasa, mau protes ke siapa coba?

Ilmuwan Cuaca Juga Manusia Biasa

Nah, dari sinilah saya akhirnya paham kenapa para ilmuwan meteorologi bikin alat aneh-aneh. Ternyata, apa yang saya alami itu juga dirasakan oleh mereka. Mereka juga sama mangkelnya kalau harus nebak-nebak kelakuan badai cuma dari tampangnya doang. Masa ilmuwan bergelar Ph.D kalah presisi sama dukun pawang hujan? Maka, berbekal rasa penasaran dan mungkin rasa trauma jemurannya kehujanan, diciptakanlah sebuah alat super canggih bernama Radar Cuaca Doppler. Gini, sampeyan mungkin mikir, "Ah, basi itu mah. Radar kan emang dari dulu udah ada buat mantau pesawat musuh. Eits, sik to. Radar cuaca konvensional (incoherent radar) yang zaman dulu itu ibarat orang rabun jauh yang lupa pakai kacamata. Dia cuma bisa nangkep pantulan gelombang (reflectivity) dari rintik air di awan. Jadi dia cuma bisa ngasih info, "Oh, di sana ada sekumpulan awan tebal, banyak airnya, awas basah." Tapi dia nggak tahu apa yang terjadi di dalam awan itu. Apakah airnya lagi santai-santai, atau lagi pada tawuran bikin puting beliung?

Bukan Radar Biasa, Bos!

Nah, kalau Radar Doppler, ini beda kasta. Menurut paper babon klasik dari tahun 1979 karya Richard J. Doviak dan kawan-kawannya di National Severe Storms Laboratory, radar ini punya "mata dewa". Radar Doppler nggak cuma mendeteksi keberadaan air, tapi juga mengukur kecepatan pergerakan partikel air di dalamnya berkat efek Doppler. "Lho, ngukur kecepatan rintik hujan di langit buat apaan, Mas? Emangnya mereka mau balapan?" Lha ya karena pergerakan partikel air itu ngikutin arah angin! Ibarat polisi lalu lintas yang pakai pistol radar buat nilang mobil ngebut di jalan tol, radar Doppler ini menembakkan gelombang mikro ke arah awan. Begitu gelombangnya mantul balik, pergeseran frekuensinya (Doppler shift) dihitung buat nentuin seberapa cepat air itu bergerak mendekati atau menjauhi stasiun radar. Hasilnya? Jeng jeng jeeeng! Ilmuwan bisa melihat pusaran angin (vortex) atau embrio tornado yang diam-diam bersembunyi di balik awan tebal. Awannya dari luar mungkin kelihatan kayak gumpalan permen kapas raksasa (gulali) yang agak butek, tapi dari pantauan Doppler, ketahuan deh kalau di dalemnya lagi ada "mesocyclone" yang siap ngobrak-ngabrik atap rumah warga.

Menjinakkan Rumus Bikin Pusing

Di paper ini, Doviak dkk nyeritain betapa ribetnya mengolah sinyal dari awan. Soalnya, partikel air di awan itu jumlahnya milyaran, dan semuanya gerak sembarangan. Ini beda sama radar militer yang nembak sinyal ke satu pesawat tempur segede gaban. Maka dari itu, mereka merumuskan apa yang disebut sebagai Doppler power spectrum. Kalau baca rumus-rumus integral dan diferensial di paper ini, kepala saya rasanya pengen pecah. Ada autocovariance, Nyquist velocity, sampai fast Fourier transform. Belum lagi ada masalah yang namanya "ambiguitas jangkauan dan kecepatan" (range-velocity ambiguity). Badalah. Serius to ini? Ibaratnya begini: karena radarnya nembakin sinyal pakai frekuensi tertentu, kadang mesinnya jadi bingung. "Ini angin yang geraknya 100 kilometer per jam di jarak 50 kilometer, atau angin gerak 50 kilometer per jam di jarak 100 kilometer ya?" Tapi tenang, bapak-bapak pintar ini udah punya solusinya. Mereka ngembangin teknik yang namanya Pulse-Pair Processing dan Staggered PRT. Sederhananya, ini adalah trik nembakin sinyal dengan jeda yang nggak beraturan, biar mesinnya bisa ngebedain mana sinyal pantulan awan dekat dan mana yang pantulan awan jarak jauh. Modalnya ya ilmu statistik. Gila bener, orang-orang ini bisa nebak kelakuan angin badai modal otak-atik angka probabilitas.

Berkat teknik-teknik ndakik-ndakik inilah, pada tanggal 20 April 1974, Radar Doppler NSSL sukses mendeteksi sebuah badai tornadik secara real-time. Sistem ini bisa menangkap keberadaan sirkulasi udara ekstrem di ketinggian menengah (6-8 kilometer) jauh sebelum tornadonya menyentuh tanah. Waktu peringatan dininya rata-rata sekitar 20 menit. Dua puluh menit itu luar biasa berharga, lho. Kalau sampeyan tinggal di jalur badai, 20 menit itu cukup buat sembunyi di ruang bawah tanah. Atau kalau sampeyan tipe santai, cukup buat bikin mi instan rebus pakai telur sebelum akhirnya nyerah pada takdir.

Otoritas Emak di Atas Segalanya

Membaca paper Doviak dkk ini bikin saya sadar, sains itu emang keren kebangetan. Berkat kerja keras ilmuwan-ilmuwan kurang tidur ini, Radar Doppler kini menjadi tulang punggung peringatan cuaca dini di seluruh dunia. Kita nggak perlu lagi main tebak-tebakan isi manggis sama cuaca. Badai sebesar apa pun, pusaran seganas apa pun, udah bisa diintip jeroannya dari jarak puluhan kilometer layaknya dokter kandungan ngecek kondisi bayi pakai USG. Tapi ya gitu deh. Secanggih apa pun sistem radar yang dibangun oleh lembaga cuaca negara, dan seakurat apa pun data Doppler velocity yang ditampilkan di layar monitor resolusi tinggi. Tetep aja, kalau langit mendadak berubah agak kelabu, emak saya bakal tetep teriak nyuruh ngangkat jemuran dengan nada mengancam. Maaf Pak Doviak, sepertinya di rumah saya, insting emak-emak tingkat kepercayaannya lebih evidence-based daripada radar Doppler sampeyan. Mwuahahaha. Dyar.

Referensi:

Doviak, R. J., Zrnić, D. S., & Sirmans, D. S. (1979). Doppler Weather Radar. Proceedings of the IEEE, 67(11), 1522-1553.


Dukung Jurnalisme Iklim Kami

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat dan ingin mendukung kami untuk terus menghadirkan jurnalisme sains, data, dan lingkungan yang berkualitas, pertimbangkan untuk mentraktir kami kopi!

Dukung via Saweria

Komentar (0)

Email opsional. Kami tidak akan menggunakan alamat email Anda untuk tujuan komersial kecuali Anda berlangganan nawala kami.