Kenangan manis sama mantan aja disimpen rapi di galeri HP, masa data radar cuaca berharga malah dibiarin musnah begitu saja? Nggapleki tenan.
Sindrom "Siapa Tahu Nanti Butuh"
Saya ini punya kebiasaan yang agak susah dihilangkan: hobi menimbun barang-barang sepele. Mulai dari struk belanjaan minimarket, tiket bioskop dari zaman film Twilight masih hits, sampai kardus HP lama, semua numpuk di pojokan kamar. Kalau istri saya mulai ngomel saat bersih-bersih, "Mas, ini kardus HP ngapain disimpen terus sih? Bikin sempit aja!" Jawaban andalan saya pasti langsung keluar, "Sik to, jangan dibuang, siapa tahu nanti butuh." Tapi ndilalah, kelakuan saya ini suka jadi bumerang. Pas lagi santai, eh struk-struk itu kelihatan nyampah banget. Akhirnya dengan tekad bulat, saya buang semua ke tempat sampah. Eh, ujug-ujug besoknya kulkas rusak dan saya butuh nyari bukti garansi yang ternyata struknya ikut kebuang bareng tumpukan sampah tadi. Hajiguuurrr! Rasanya pengen jedotin kepala ke tembok. Mangkel tenan. Nah, dari sinilah saya mulai sadar. Ternyata, kelakuan ceroboh buang-buang barang yang dikira nggak penting di masa lalu ini nggak cuma terjadi di level mas-mas biasa kayak saya. Badalah, para dewa cuaca dan klimatologi dunia aja ternyata pernah ngelakuin hal bodoh yang sama dengan urusan pendataan cuaca!
Radar Cuaca Itu Sakti, Sayang Dulu Pada Lupa Nge-Save
Gini lho. Para ahli iklim sekarang lagi pada pusing tujuh keliling merhatiin perubahan cuaca ekstrem. Hujan badai makin nggak ketebak. Banjir ujug-ujug datang bandang. Terus, alat paling sakti buat ngintip jeroan badai itu apa? Ya radar cuaca! Radar ini ibarat mata dewa yang bisa ngelihat seberapa gede tetesan air di dalam awan, seberapa tebal esnya, sampai seberapa kencang putaran angin badai dalam radius ratusan kilometer. Masalahnya, radar cuaca ini sebenarnya udah dipakai sejak tahun 1940-an atau 1950-an. Zaman mbah-mbah kita dulu, radar udah dipakai buat mendeteksi badai petir dan puting beliung. Tapi tahu nggak sampeyan apa yang terjadi?
"Lho, kan bagus alatnya udah ada sejak lama? Berarti arsip datanya panjang dong buat diteliti zaman now?"
Gundulmu! Di zaman baheula itu, tampilan radar cuaca masih pakai tabung layar neon yang jadul abis. Gambarnya cuma ada dan kelihatan pas layarnya nyala doang. Kalau mau disimpen, petugasnya ya kudu buru-buru motret layarnya pakai kamera! Boro-boro mikirin flashdisk, cloud storage, atau pencet CTRL+S. Alhasil, banyak banget pengamatan cuaca puluhan tahun lalu yang menguap begitu saja. Hilang tanpa jejak kayak janji politisi sehabis pemilu. Menurut Elena Saltikoff dan kawan-kawan dari tim ahli cuaca gabungan internasional, baru pada tahun 2000-an para pemangku cuaca di banyak negara mulai rajin "nge-save" data radar mereka ke dalam format digital. Berdasarkan survei mereka ke 45 negara, cuma sekitar 20 negara yang lumayan beruntung punya arsip data radar cuaca sejak sebelum tahun 1995. Sisanya? Datanya bolong-bolong, formatnya nggak karuan, pindah-pindah vendor, atau malah hilang dimakan rayap birokrasi.
Lebih Akurat Ketimbang Ember Penakar Hujan
Mungkin dari tadi ada pembaca yang ngeyel di dalam hati, "Sik to, Mas. Ngapain repot-repot amat ngurusin radar? Kan di kantor BMKG banyak itu tabung-tabung penakar hujan di lapangan? Pakai data itu aja cukup kan buat ngukur tren hujan?"
Lha ya beda jauh, Bos!
Penakar hujan konvensional (rain gauge) itu ibarat sampeyan pengen ngecek seenak apa rasa kuah soto sedandang, tapi sampeyan cuma nyicip setetes kaldu pakai ujung garpu. Penakar hujan cuma nyatet air yang jatuh di titik itu doang. Kalau hujan badainya ekstrem tapi geser sepuluh kilometer ke arah utara dari penakar hujan, ya alat itu bakal kering kerontang dan mencatat curah hujan nol.
Sebaliknya, radar cuaca bisa memindai area seluas ratusan kilometer persegi sekaligus dalam bentuk tiga dimensi. Jurnal ini ngasih contoh evidence based dari wilayah Jerman. Di sana, para ilmuwan memproses ulang data radar selama 17 tahun penuh buat bikin klimatologi hujan ekstrem.
Hasilnya jeng jeng jeeeng! Hujan ekstrem yang sifatnya super lokal, yang wilayah guyurannya kadang nggak nyampe 10 kilometer persegi, bisa terjadi di mana saja. Kalau cuma ngandelin jaringan penakar hujan yang jarak antar-stasiunnya puluhan kilometer, fenomena hujan badai skala kecil kayak gini bakal gampang banget lolos dari pantauan.
Cleguk! Ngeri juga kan, wilayah tempat kita nongkrong kelelap air, tapi di buku catatan sejarah klimatologi dianggap cerah berawan gara-gara salah pakai metode pengukuran?
Makanya, data radar historis yang umurnya belasan atau puluhan tahun ini nilainya mahal banget buat ngertiin karakter hujan, pergeseran pola badai, sampai buat mendeteksi puting beliung atau hujan es. Cuma ya itu tadi, syarat mutlaknya: datanya harus disimpen dengan rapi, direkam dalam format data terbuka yang seragam, dan dilengkapi catatan riwayat ganti alat (metadata) yang jelas.
Penutup
Intinya begini. Meramal cuaca atau sok-sokan meneliti iklim tanpa punya arsip data radar jangka panjang itu ibarat mau makan soto babat tapi lupa nggak dikasih babat. Hambar dan kurang nggapleki. Kita boleh sombong sekarang punya alat cuaca super canggih, tapi kalau hasil pengukurannya cuma dipakai buat laporan harian terus dibuang, ya buat apa?
Jadi, buat kalian para petinggi institusi cuaca di luar sana, monggo dipastikan server dan hardisk kalian aman sentosa. Mulailah menyimpan data radar dalam bentuk mentah tiga dimensi, biar nanti bisa diolah lagi seiring majunya zaman. Jangan sampai orang-orang di tahun 2050 nanti misuh-misuh ngutuk kita gara-gara datanya musnah berantakan tak bisa dibaca.
Ingat, objektivitas data itu sangat penting, dan arsip yang rapi adalah jalan ninja kita semua agar kelak tidak terlihat kelewat gobl*k di hadapan sejarah.
#RadarCuaca #PerubahanIklim #Klimatologi #DataSains #Meteorologi #CuacaEkstrem
Referensi
Saltikoff, E., Friedrich, K., Soderholm, J., Lengfeld, K., Nelson, B., Becker, A., Hollmann, R., Urban, B., Heistermann, M., & Tassone, C. (2019). An Overview of Using Weather Radar for Climatological Studies: Successes, Challenges, and Potential. Bulletin of the American Meteorological Society, 100(9), 1739-1752. https://doi.org/10.1175/BAMS-D-18-0166.1


Komentar (0)